Dimensi Pedagogis dan Artistik dalam Kegiatan Pameran Karya Kokurikuler “The Art of Learning” di SMP Negeri 4 Ampelgading Satu Atap
- Senin, 24 November 2025
- Kokurikuler Smpn4ampelgadingsatuatap Malang Pendidikan Indonesia
- ALIFI RISQI
- 0 komentar
Pameran karya kokurikuler “The Art of Learning” yang diselenggarakan oleh SMP Negeri 4 Ampelgading Satu Atap tidak hanya menjadi ajang apresiasi seni, tetapi juga ruang edukatif yang merepresentasikan integrasi nilai pedagogis dan artistik. Berlokasi di kawasan lereng Gunung Semeru, sekolah ini berada dalam lingkungan yang kaya akan potensi alam dan budaya lokal, yang secara tidak langsung turut membentuk karakter estetika dan cara pandang siswa dalam berkarya.
Secara pedagogis, pameran ini merupakan manifestasi pembelajaran kontekstual yang mengaitkan pengalaman hidup peserta didik dengan proses kreatif mereka. John Dewey menegaskan bahwa “education is not preparation for life; education is life itself,” yang mengandung makna bahwa pendidikan sejati lahir dari pengalaman nyata. Dalam konteks proses pembelajaran kontekstual di SMP Negeri 4 Ampelgading Satu Atap, dengan kondisi geografis lingkungan pegunungan, kehidupan agraris, serta dinamika sosial pedesaan menjadi sumber inspirasi yang memperkaya proses pembelajaran dan menjadikannya lebih relevan dengan realitas.
Kegiatan pameran ini menjadi media transmisi nilai-nilai lokal sekaligus sarana refleksi diri. Elliot Eisner menyatakan bahwa seni mengembangkan sensitivitas dan nalar estetik: “The arts teach children to make good judgments about qualitative relationships.” Melalui karya yang dipamerkan, siswa tidak hanya mengekspresikan kemampuan teknis, tetapi juga membangun kesadaran kritis terhadap lingkungannya, termasuk relasi manusia dengan alam serta identitas budaya yang melekat pada kehidupan pedesaan di lereng gunung semeru.
Dimensi artistik dalam The Art of Learning tampak pada pemanfaatan unsur-unsur visual yang merepresentasikan panorama alam Semeru, aktivitas masyarakat desa, serta nilai-nilai kearifan lokal. Hal ini sejalan dengan pandangan Herbert Read bahwa “Art is a mode of knowledge,” yang menunjukkan bahwa seni merupakan cara manusia memahami dan menafsirkan realitas. Karya siswa menjadi dokumentasi visual sekaligus narasi simbolik tentang kehidupan mereka sebagai bagian dari komunitas lereng gunung.
Lebih jauh, pameran ini berfungsi sebagai ruang dialog pedagogis antara siswa, guru, dan masyarakat sekitar. Paulo Freire menekankan pentingnya pendidikan sebagai praktik pembebasan melalui dialog, di mana peserta didik menjadi subjek aktif yang sadar akan perannya dalam masyarakat. Dalam konteks ini, pameran tidak hanya memperlihatkan hasil karya, tetapi juga memperkuat rasa percaya diri, kebanggaan identitas, serta kesadaran ekologis siswa terhadap ruang hidupnya.
Dengan demikian, pameran karya kokurikuler “The Art of Learning” di SMP Negeri 4 Ampelgading Satu Atap menjadi representasi nyata pendidikan yang holistik, mengintegrasikan nilai artistik, pedagogis, dan kultural dalam satu kesatuan bermakna. Kegiatan ini menunjukkan bahwa meskipun berada di wilayah pedesaan lereng Gunung Semeru, proses pendidikan tetap mampu melahirkan karya reflektif yang tidak hanya estetis, tetapi juga sarat akan nilai edukatif, sosial, dan humanistik.
Artikel Terkait
“Dari Pembiasaan ke Pembentukan Karakter: Makna Pedagogis di Balik Jumat Sehat”
Jum'at, 14 November 2025
“Apel Pagi sebagai Sarana Pembentukan Disiplin dan Nasionalisme Siswa: Tinjauan Pedagogis di SMP Negeri 4 Ampelgading Satu Atap”
Rabu, 05 November 2025
“Meneguhkan Semangat Sumpah Pemuda Melalui Sinergi Sekolah dan TNI: Kolaborasi SMP Negeri 4 Ampelgading Satu Atap dengan Koramil 0818/17 Ampelgading”
Rabu, 29 Oktober 2025